• Peluncuran Buku Karya Agustianto dan Ateng Kusnadi, berjudul Bebas dengan Paradigma Syariah, 3 April 2011, pada momentum Milad Ahad 15 di Hotel Desa Wisata, Taman Mini (TMII). Makna BEBAS dalam judul buku ini ialah Berkah Etis, Bahagia, Adil, Sukses.
  • Strategi Jitu Meningkatkan Market Share Bank Syariah

    1

    Posted on : 05-04-2011 | By : Agustianto | In : Artikel, Perbankan Syariah

    Oleh : Agustianto

    Market share bank syariah di Indonesia saat ini, relatif masih kecil, belum mencapai 4 % dari total asset bank secara nasional. jumlah nasabah Bank syariah saat ini,  baru sekitar 7 juta orang dengan asset Rp 100 triliun . Padahal jumlah umat Islam potensial untuk menjadi customer bank syariah lebih dari 100 juta orang. Dengan demikian, mayoritas umat Islam belum berhubungan dengan bank syariah.

    Banyak faktor yang menyebabkan mengapa umat Islam belum berhubungan dengan bank-syariah, antara lain  Pertama, Tingkat pemahaman dan pengetahuan umat tentang bank syariah masih sangat rendah. Masih banyak yang belum mengerti dan salah faham tentang bank syariah dan menggangapnya sama saja dengan bank konvensional, Bahkan sebagian ustaz yang tidak memiliki ilmu yang memadai tentang ekonomi Islam (ilmu ekonomi makro;moneter)  masih berpandangan miring tentang bank syariah. Kedua, Belum ada gerakan bersama dalam skala besar untuk  mempromosikan bank syariah. Ketiga, Terbatasnya pakar dan SDM ekonomi syari’ah. Keempat, Peran pemerintah masih kecil dalam mendukung dan mengembangkan ekonomi syariah. Kelima, Peran ulama, ustaz dan dai’ masih relatif kecil. Ulama yang berjuang keras mendakwahlan ekonomi syariah selama ini terbatas pada DSN dan kalangan akademisi yang telah tercerahkan. Bahkan masih banyak anggota DSN yang belum menjadikan tema khutbah dan pengajian tentang bank dan ekonomi syariah. Keenam, para akademisi di berbagai perguruan tinggi, termasuk perguruan Tinggi Islam belum optimal. Ketujuh, p;eran ormas islam juga belum optimal membantu dan mendukung gerakan bank syariah. Terbukti mereka masih banyak yang berhubungan dengan bank konvensional.

    Kedelapan, dan ini yang paling utama, Bank Indonesia dan  bank-bank syariah belum menemukan strategi jitu dan ampuh dalam memasarkan bank syariah sehingga umat datang berduyun-duyun ke bank-bank Syariah.

    Alhamdulillah, stretegi jitu dan sangat ampuh tersebut telah lama kita temukan dan telah lama terbukti dengan ampuh menggiring dan menyadarkan umat untuk menabung, mendepsitokan uangnya di bank syariah serta bertransaksi perbankan dengan bank syuariah.

    Untuk itu perlu strategi jitu memasarkan bank syariah kepada masyarakat. Pola dan sistem pemasaran bank syariah selama ini masih belum tepat dan perlu perubahan-perubahan mendasar. Sistem dan strategi pemasaran bank syariah selama ini belum bisa membuahkan pertumbuhan cepat atau loncatan perumtumbuhan yang memuaskan (quantum growing) bank syariah. Karena itu tidak aneh jika market share bank syariah masih berkisar di angka 1,5 %. Padahal bank syariah telah bertkembang pesat sejak tahun 2000. Bahan Bank Muamalat telah berkembang sejak tahun 1992.

    Oelh karena para prakrtisi bukan berasal dari latar belakang ulama/da’i, maka mereka tidak memahami psikologi dakwah ekonomi syari’ah.

    Bayangkan, di Indonesia  misalnya jumlah mesjid mencapai 1 juta buah, lebih banyak dari jumlah desa yang ada di Indoensia. Belum lagi miushalla dan jumlah majlis ta’lim. Jika semua ustaz yang berkhutbah mengkampanyekan bank syariah secara haqqulk yakin, maka bisa diupatiskan lebu sertayus juta ummat akan hijrah ke bank syariah. Jika setiap mesjid diisi 100 orang jamaah, maka 100 juta ummat akan menkjadi lahan potensial untuk bank syariah. Tetapi Bank Indoensia dan bank-bank syariah belum menyadari potensi ini.

    Karena itu saya berulang kali mendesak semua pihak untuk menyadarkan para ustad dan mengisi atau membekali mereka dengan ilmu ekonomi makro dan ilmu moneter serta keunggulan-keunggnan ekonomi dan bank syariah. Juga menjelaskan bagaimana dampak buruk bunga bagi perekonomian dunia dan Indonesia. Meskipun ada seminar, tulisan  dan berbagai penjelasan, namun semua itu belum optimal dan belum tajam mendoktrin umat secara rasional tentang keunggulan bank syariah dan kezaliman bank konvensional.

    Materi ceramah ulama DSN atau DPS masih banyak yang  bersifat emosional kegamaan, karena label syariah. Yang lebih kita utamakan adalah pendekatan rasional obyektif, bahwa bank syariah tersebut betul-betul unggul dan menciptakan kemaslahatan umat manusia. Sebaliknya sistem riba telah menimbulkan kerusakan ekonomi dunia dan masyarakat.

    Kita telah melakukan upaya brainwashing para ulama/ustaz dan hasilnya alhamdulilah dalam waktu bebarapa bulan jamaah dan umat datang berduyun-duyun ke bank syariah yang menimbulkan antrian panjangdi bank syariah, sehingga sebuah kantor kas saja bisa menjadi terbaik se-Indonesia. Bukti empiris ini telah diuji di berapa kota, seperti Medan dan Binjei. Para ulama di sebuah kota ditraining dalam bentuk workshop lalu diminta untuk mendakwahkan keunggulan bank syariah dan dengan penuh keyakinan mendalam menyampaikan keharamna bunga bank konvensikonal. Jika jamaah setiap mesjid 500 orang dan ustaz yang mendakwahkan ada 200 orang. Maka sasaran potensial nasabah bank syariah ada 100 ribu orang. Belum lagi dihitung setiap ustaz memiliki ribuan jamaah pengajian dikali jumlah uztaz yang ribuan juga jumlahnya. Jika potensi ini digerakkan, maka  bank-bank  syariah akan tumbuh spektakuler dan dalam waktu singkat bisa menguasai  pasar perbankan nasional.

    Sekarang masih ada ustaz yang meragukan keharaman bunga bak, karena ilmunya masih terbatas dalam ekonomi Islam. Jangankan mengecap pendidikan  S2 dan S1, di bidang ekonomi Islam, malah sama sekali belum pernah belajar ilmu ekonomi makro, mikro, moneter dan akuntansi. Mereka  belum pernah  ditraining dengan modul khusus yang telah disiapkan untuk membrainwashing para ustaz/ulama.

    Untuk itu kita harus menciptakan ustaz/dai/ulama bank syariah yang memiliki ilmu yang memasdai ntuk mendakwahkan bank syariah. Mereka tidak saja bertekad untuk mengajak umat ke bank syariah, tetapi malah dipastikan membenci seluruh sistem bunga seetelah mendapat training jitu. Mereka selama ini masih berhubungan dengan sistem biunga karena belum memahami ilmu ekonomi monener Islam, 15 keunggulan bank syariah, perbedaan bunga dan margoin murabaha, bahkan ada yang belum bisa famabeda bunga dan bagi hasil.

     

    Comments (1)

    Asslmkm Ustd.klo bleh saran
    materi untuk para ustad Bisa dshare.kita dkota kecil bisq share jg dng para ustad.

    Post a comment

    All Articles | Contact Us | RSS Feed | Mobile Edition