• Dapatkan 8 buku karya Agustianto, antara lain: Fikih Muamalah Ke-Indonesiaan, Maqashid Syariah, dalam Ekonomi dan Keuangan, Perjanjian (Akad) Perbankan Syariah, Hedging, Pembiayaan Sindikasi Syariah, Restrukturisasi Pembiayaan Bank Syariah, Ekonomi Islam Solusi Krisis Keuangan Global. Hub: 081286237144 Hafiz
  • Zakat, fungsi dan penghitungannya

    0

    Posted on : 07-04-2011 | By : Agustianto | In : Artikel, ZISWAF

    Oleh : Agustianto

     

    Dalam Islam, zakat menduduki posisi yang sangat penting. Zakat tidak saja menjadi rukun Islam, tetapi juga menjadi indikator dan penentu apakah seseorang itu menjadi saudara seagama atau tidak. Maksudnya, bila seorang muslim telah kena wajib zakat, tetapi tidak mau berzakat, maka ia bukan lagi saudara seagama. Hal ini secara tegas dikemukakan Alquran, “Jika mereka bertaubat, mengerjakan shalat dan mengeluarkan zakat, barulah mereka menjadi saudaramu seagama”. (QS.5:8).

    Dengan demikian, orang yang mengabaikan kewajiban zakat, sesungguhnya telah melakukan keengkaran dan kedurhakaan besar kepada Allah. Karena itulah, ketika di masa Abu Bakar ada sebagian kaum muslimin yang mengaku muslim dan rajin shalat, tetapi enggan membayar zakat, Abu Bakar dengan nada marah mengeluarkan statemen yang artinya: Demi Allah, aku akan perangi siapa yang memisahkan shalat dengan zakat.

    Abdullah bin Mas’ud mengatakan bahwa barang siapa yang melaksanakan shalat, tapi enggan membayar zakat, maka tidak ada shalat baginya.

    Begitu eratnya keterkaitan shalat dan zakat, sehingga Ibnu Katsir mengatakan dalam Tafsirnya, (Amal seseorang itu tidak bermanfaat, kecuali dia menegak­kan shalat dan menunaikan zakat sekaligus).

    Menurut Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqh as-Sunnah, di dalam Al-Qur’an perintah shalat dan zakat digandengkan sampai 82 kali. Ini menunjukan bahwa shalat dan zakat tidak bisa dipisahkan dalam kegiatan amal seorang muslim. Shalat merupakan ibadah badaniyah sedangkan zakat merupakan ibadah maliyah. Shalat merupakan hubungan vertikal kepada Allah, sedangkan zakat lebih bersifat horizontal dan so­sial.

    Dalam rangka memotivasi dan membangun masyarakat yang taat zakat, Islam tidak hanya mengumumkan punishment (azab) yang sangat keras bagi penolakannya (QS. 9:35,  41:7) dan memberikan reward (jaza’) yang sangat besar bagi yang melaksanakannya. (QS. 30:39, 9:19), lebih dari itu, berbagai credit point, termasuk garansi dicurahkannya keberkahan dan pelipatgandaan asset bagi orang-orang yang membayar zakat (QS. 267).

    Pengertian Zakat

    Secara etimologi (lughat), zakat memiliki tiga penger­tian. Pertama, berkah,  Kedua, tumbuh, berkembang, subur atau bertambah. (Firman Allah, “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedeqah”. (QS. 2:276), “Apa saja yang kamu infaqkan walau sedikit saja, maka Dia akan menggantinya“. (Qs. 6:38).  Sabda Nabi Saw, Setiap pagi dua malaikat berdo’a, Ya Allah, berikanlah kepada orang yang telah berinfaq itu ganti dan berikanlah kepada orang yang tidak berinfaq itu kebinasaan. (H.R Bukhari-Muslim). Dalam hadits lain Nabi bersabda, Artinya: Sedeqah itu tidak akan mengurangi harta (H.R.Tarmizi). Ketiga, tazkiyah, membersihkan dan mensucikan. Firman Allah, “Ambillah zakat dari harta mereka, engkau membersihkan dan mensucikan mereka dengan sedeqah tersebut”. (QS. At-Taubah: 103).

    Menurut istilah syara’, zakat itu ialah nama bagi pengambilan tertentu dari harta tertentu menurut sifat-sifat tertentu dan untuk diberikan kepada golongan tertentu. Jadi, dalam zakat terdapat aturan-aturan khusus yang ada keten­tuan-ketentuannya.

    Selain zakat, dikenal pula istilah infaq dan sedeqah. Infaq dan sedeqah tidak ditentukan jumlahnya (bisa besar atau kecil) dan tidak ditentukan pula nishabnya dan sasaran penggunaannya. Dari sini terlihat bahwa zakat bersifat khusus, sedangkan infaq dan sedeqah lebih umum.

    Infaq mencakup dua macam, pertama infaq wajib, yakni zakat dan nazar, Kedua infaq sunnah, yakni infaq biasa di luar zakat. Kata sedeqah juga bisa mencakup sedeqah wajib, yakni zakat (QS.9:60) dan sedeqah sunnah (sedeqah di luar zakat).

    Berinfaq dan bersedeqah merupakan bagian dari keimanan seorang muslim, artinya, infaq dan sedeqah merupakan ciri utama orang-orang yang benar imannya (QS.8: 3-4), ciri utama orang yang bertaqwa (QS. 2:3 dan 9:34) serta ciri mukmin yang mengharapkan balasan yang abadi dari Allah Swt (QS. 35:29).

    Sedeqah, selain dalam bentuk harta (amwal) dapat juga berupa sumbangan tenaga atau pemikiran dan bahkan sekedar senyuman. Sedangkan infaq tidak bisa dengan non-materi maka infaq tidak boleh dengan senyuman dan pemikiran.

    Meskipun kata zakat, infaq dan sedeqah memiliki perbe­daan, tetapi Alquran dan sunnah seringkali menggunakan kata infaq, sedeqah dan haq untuk makna zakat. (QS. 9:35, 9:60, 9:21).

    Signifikansi Zakat

    Kewajiban zakat dan dorongan untuk terus menerus berinfaq dan bershadakah yang demikian mutlak tegas itu, disebabkan karena di dalam ibadah ini terkandung berbagai hikmah dan manfaat (signifikansi) yang demikian besar dan mulia baik bagi muzakki (orang yang harus berzakat), mustahiq maupun masyarakat keseluruhan, antara lain tersimpul sebagai berikut

    Pertama, sebagai realisasi iman kepada Allah SWT. Berzakat merupakan upaya mensyukuri nikmat-Nya. Zakat adalah ibadah, karena itu aturannya harus sesuai dengan petunjuk syari`ah.

    Kedua, sebagai sumber dana bagi pembangunan sarana maupun prasarana yang dibutuhkan umat Islam, seperti sarana ibadah, pendidikan, kesehatan, sosial dan ekonomi, sekaligus sarana pengembangan kualitas sumber daya manusia muslim.

    Ketiga, menolong, membantu dan membina kaum Dhuafa’ (orang yang lemah secara ekonomi) maupun mustahiq lainnya ke arah kehidupan yang lebih baik dan lebih sejahtera, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan layak, dapat beribadah kepada Allah SWT, terhindar dari bahaya kekufuran, sekaligus memberantas sifat iri, dengki dan hasad yang mungkin timbul ketika mereka (orang-orang fakir miskin) melihat orang kaya yang berkecukupan hidupnya tidak memperdulikan mereka.

    Keempat: untuk mewujudkan keseimbangan dalam kepemilikan dan distribusi harta, sehingga diharapkan akan lahir masyarakat marhamah di atas prinsip ukhuwah Islamiyah dan takaful ijtima’i.

    Kelima: Zakat mengembangkan harta benda, pengembangan tersebut dapat ditinjau dari segi spiritual keagamaan berdasarkan firman Allah, “Allah memusnahkan riba (tidak berkah), dan mengembangkan sedeqah (zakat)”. QS. 2:276).

    Keenam: menumbuhkan akhlak mulia dengan memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, menghilangkan sifat kikir dan rakus, menumbuhkan ketenangan batin dan kehidupan, sekaligus mengembangkan harta yang dimiliki.

    Ketujuh: menyebarkan dan memasyarakatkan etika bisnis yang baik dan benar.

    Macam-Macam Zakat

    Ahli fiqh membagi zakat kepada dua macam, pertama zakat fitrah, kedua, zakat harta. Dalam fiqih zakat, ditentukan harta-harta yang wajib dikeluarkan zakatnya (al-amwal az-zakawiyah). Para ahli fikih secara eksplisit menyebutkan enam jenis kekayaan yang wajib dizakati, yaitu, 1. Emas dan perak, 2. Hasil tanaman dan buah-buahan, 3. Barang dagangan, 4. Binatang ternak, 5. Hasil tambang, 6. Barang temuan (Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, 1986).

    Abdurrahman Al-Jaziri dalam Kitabul Fiqh ‘ala Mazahibil Arba’ah, secara eksplisit merumuskan lima jenis harta yang wajib dizakati, 1. Binatang ternak, 2. Emas dan perak, 3. Barang Dagangan, 4. Barang tambang, 5. Hasil pertanian.

    Sementara itu, menurut Ibnu Qayyim Al-Jauzi, bahwa zakat harta itu terbagi dalam empat kelompok. Pertama, kelompok tanaman dan buah-buahan. Kedua, kelompok hewan ternak, Ketiga, kelompok emas dan perak. Keempat, kelompok harta perdagangan. Sedangkan rikaz (harta temuan), sifatnya hanya insidentil. (Zadul Ma’ad, 1925).

    Zakat merupakan ibadah maliyah dan ijtima’iyah, yakni ibadah sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang dapat berkembang sesuai dengan perkembangan umat manusia. Dengan semakin pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan kegiatan ekonomi dengan segala macam jenisnya, maka perkembangan pola kegiatan ekonomi saat ini sangat berbeda dengan corak kehidupan ekonomi di zaman Rasulullah. Tetapi substansinya tetap sama, yakni adanya usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup­nya.

    Sesuai dengan perkembangan kegiatan ekonomi  dan  mata-pencaharian masyarakat yang terus berkembang,  maka  jenis-jenis  harta  yang  dizakati  juga mengalami perkembangan. Alquran   sebagai  kitab  suci yang  universal  dan  eternal (abadi),  tidak mengajarkan doktrin yang kaku, tetapi  memi­liki  ajaran yang elastis untuk dikembangkan sesuai  dengan perkembangan zaman. Perkembangan itu terlihat  pada jenis-jenis harta yang dizakati.

    Al-Qur’a bahkan menyebutkan dengan kata-kata “Amwalihim”, yakni segala macam harta (QS.9:103) dan kata “kasabtum”, yakni segala macam usaha yang halal (QS 2:267). Oleh karena itu, ulama kontemporer memperluas harta benda yang dizakati dengan menggunakan ijtihad kreatif yang berada dalam batasan-batasan syari`ah.

    Prof. Dr. Yusuf Qardhawi adalah salah seorang ulama kaliber dunia yang mewakili ulama kontemporer itu. Qardhawi membagi al-amwal az-zakawiyah kepada sembilan kategori, 1. zakat binatang ternak, 2. Zakat emas dan perak, 3. Zakat kekayaan dagang, 4. Zakat hasil pertanian, meliputi tanah pertanian, 5. Zakat madu dan produksi hewani, 6. Zakat barang tambang dan hasil laut, 7. Zakat investasi pabrik, gedung, dll, 8. Zakat pencarian, jasa dan profesi, 9. Zakat saham dan obligasi.

    Kaedah yang digunakan ulama dalam memperluas kategori harta wajib zakat adalah bersandar pada dalil-dalil umum, seperti (QS. 9:103 dan 2:267), juga berpegang pada syarat harta wajib zakat, yaitu berpotensi untuk tumbuh dan berkem­bang.

    Karena itu, harta zakat diperluas kepada seluruh usaha dan profesi yang menghasilkan harta (uang), seperti penghas­ilan dari profesi dokter, pengacara, konsultan, bankir, kontraktor, dosen, notaris, pegawai negeri, TNI, dsb.

    Zakat Perusahaan

    Para ulama menganalogikan zakat perusahaan kepada zakat perdagangan, karena dipandang dari aspek legal dan ekonomi, kegiatan sebuah perusahaan intinya adalah kegiatan trading atau perdagangan.

    Dasar hukum kewajiban zakat perusahaan ialah dalil yang bersifat umum sebagaimana terdapat dalam QS 2:267 dan QS 9:103. “Wahai orang-orang yang beriman, infaqkanlah (zakatkanlah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik…”. “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu, kamu membersihkan dan mensucikan mereka…”

    Kewajiban zakat perusahaan juga didukung sebuah hadits riwayat Bukhari dari Anas bin Malik, bahwasanya Abu Bakar menulis surat kepadanya yang berisikan pesan tentang zakat ­binatang ternak yang di dalamnya ada unsur syirkah. Sebagian isi surat itu antara lain, “….Jangan dipisahkan sesuatu yang telah tergabung (berse­