• Dapatkan 8 buku karya Agustianto, antara lain: Fikih Muamalah Ke-Indonesiaan, Maqashid Syariah, dalam Ekonomi dan Keuangan, Perjanjian (Akad) Perbankan Syariah, Hedging, Pembiayaan Sindikasi Syariah, Restrukturisasi Pembiayaan Bank Syariah, Ekonomi Islam Solusi Krisis Keuangan Global. Hub: 081286237144 Hafiz
  • Distribusi dan Pemerataan Dalam Islam

    1

    Posted on : 18-01-2011 | By : Agustianto | In : Artikel, Islamic Economics

    Oleh Agustianto

    Tujuan : menjelaskan distribusi dan pemerataan pendapatan dalam Islam

    Pokok Bahasan : distribusi dan pemarataan pendapatan dalam Islam

    Ada 3 (tiga) aktifitas ekonomi yang disepakati oleh para ekonom, yakni Produksi, Distribusi dan Konsumsi.  Dua aktifitas pertama kemudian dijabarkan dengan pertanyaan What to produce, How to produce dan For whom to produce.  What and How berkaitan dengan materi dan proses teknis produksi, sedangkan For whom menjadi acuan target distribusi.  Karena itulah, distribusi seringkali disederhanakan pada pemasaran (marketing).  Namun, kajian ini tidak berbicara tentang distribusi dalam pengertian market share dan strategi marketing.  Bahasan ini juga lebih tertuju kepada distribusi dalam pengertian yang lebih generik, yakni penyebaran atau perputaran ekonomi

    Wacana tentang perputaran ekonomi dalam skala negara seringkali diterjemahkan menjadi pemerataan kesejahteraan warga negara.  Wacana inilah yang kemudian memunculkan dikotomi blok Timur (negara-negara yang menganut paham Sosialisme) dan blok Barat (negara-negara yang menganut paham Liberalisme/Kapitalisme).  Sederhananya, blok Timur memprioritaska pemerataan kesejahteraan (distributional prosperity / equity), sekaligus mengenyampingkan perbedaan komparatif antar individu.  Di sisi yang lain, blok Barat lebih mengedepankan kebebasan dan penghargaan terhadap perbedaan komparatif dari kemampuan individu.

    Sebagai solusi dari kegagalan sosialisme dan kapitalisme, para ahli ekonomi Islam menawarkan prisma ekonomi Islam.  Thesa prisma ekonomi Islam ini merupakan prinsip-prinsip interaksi ekonomi yang dapat diberlakukan baik untuk antar individu maupun untuk skala negara. Prinsip-prinsip  tersebut berasal dari al- Qur’an.

    Sirkulasi Harta dalam al- Qur’an

    Ada dua ayat yang menggunakan akar kata دول : Pertama QS. Ali Imron 140 yang menggunakan kata نداولها , sementara yang kedua QS. Al Hasyr 7 menggunakan kata دولة .  Kedua kata ini identik karena keduanya mengandung makna yang sama.  Ar- Raghib al- Asfahani[i] menyatakan bahwa الدولة berarti الشىء الذى يتداول بعينه (Sesuatu yang substansi materinya bersirkulasi).

    Keduanya berisikan pesan bahwa keberhasilan, kemenangan, kebahagiaan, dan kenyamanan material serta immaterial akan dirasakan secara bergantian; dari satu individu ke individu lain, satu kelompok ke kelompok lain.  .[ii]

     

    Adapun ayat pertama yang berbicara tentang sirkulasi kenyamanan ini adalah:

     

    ان يمسسكم قرحن فقد مسّ القوم قرح مثله وتلك الأيام نداولها بين الناس وليعلم الله الذين ءامنوا ويتّخذ منكم شهداء والله لايحبّ الظالمين (ال عمران 140)

     

    Ayat di atas merupakan bagian dari rangkaian ayat sebelum dan sesudahnya (ayat 130 – 141 S. Ali Imron) yang oleh Abdullah Yusuf Ali[iii] dikelompokkan kedalam bagian ke 14.

     

    Ayat 130 bicara tentang larangan riba لا تأكلوا الرّبوا أضعافا مضاعفة karena riba menekan orang yang membutuhkan, menunjukkan keserakahan, dan bertentangan dengan prinsip ibadah (the service) kepada Allah dan sesama. Jika larangan ini dilanggar maka neraka disediakan baginya (131).  Sebaliknya jika ia mematuhi (bertaqwa), maka ia akan memperoleh rahmat (132) / kelegaan surgawi seluas bumi plus langit (133). Kelegaan / kelapangan surgawi ini dijelaskan oleh ayat 134 – 139 bahwa dalam kondisi ketika orang lain merasakan kesulitan material dan immaterial, ia –dengan maghfirah dan jaza’ Ilahy– akan merasa lapang dan sejuk sebab surganya disejukkan oleh sungai yang mengalir (136).  Karena itu, ia tidak perlu bersedih ataupun berputus asa.  Jika ia merasakan pedih (kekalahan/kegagalan) maka orang lainpun pernah merasakannya. Kepedihan  akibat kekalahan / kegagalan akan berputaran dan bergantian di antara manusia.

     

    Jika QS. Ali Imron 140 di atas masih mengacu kepada kenyamanan material dan immaterial, dan ia tidak secara langsung menunjuk kepada sirkulasi material antar individu, maka ayat yang kedua (QS. Al- Hasyr 7) lebih spesifik kepada sirkulasi material (harta):

     

    ما أفآء الله علي رسوله من أهل القري فلله و للرسول ولذي القربي واليتامي والمساكين وابن السبيل كي لايكون دولة بين الأغنياء منكم وما ءاتاكم الرسول فخذوه ومانهاكم عنه فانتهوا واتّقوا الله انّ الله شديد العقاب ( الحشر 7)

     

    Apa yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada Rasul-Nya dan telah Ia ambil dari penduduk desa, maka itu diperuntukkan bagi kaum kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. (Itu semua) agar harta tersebut tidak hanya berputar di antara orang-orang kaya saja.  Ikutilah apa yang disampaikan oleh Rasul dan tinggalkanlah apa yang dilarangnya.  Bertaqwalah kepada Allah.  Sesungguhnya azab Allah amat keras. (QS. 59 / al-Hasyr : 7).

    Menurut Abdullah Yusuf Ali dan KH. Qamaruddin Saleh, dkk, surah ini bicara tentang Bani Nadhir yang tinggal sekitar 3 mil sebelah Selatan Madinah.  Konspirasi mereka dengan kaum kafir Quraish Mekah dan kaum munafik Madinah dalam perang Uhud mendorong Rasul dan para sahabat (4 bulan stl perang Uhud) untuk memerangi mereka.  Setelah 11 hari kaum mukmin memblokade perkampungan mereka dan mempressure mereka dengan membakar (dalam riwayat lain: memotong) sebagian pohon kurma, Bani Nadhir pun meninggalkan kediaman mereka; sebagian ke Syria, yang lainnya ke Khaybar. Sepeninggal mereka muncul masalah pampasan (tanah), kaum Anshor menyarankan agar dibagi dua antara Anshor dan Muhajirin tapi Rasul menolak dan memberikannya kepada kaum Anshor yang lebih berhak.

    Meskipun ayat di atas dilatari oleh penegasan akan kebaikan kaum Anshor, namun kalimat كي لا يكون دولة بين الأغنياء amat menarik untuk dicermati.  Muhammad Hasan al- Hamsy menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kata ini adalah ملكا متداولا بينهم لا يناله أحد من الفقراء (kepemilikan yang hanya berputar di antara mereka dan tidak satu pun dari orang miskin yang menerimanya). Dengan kata lain, kalimat ini menunjukkan bahwa Islam tidak menghendaki terjadinya penumpukan harta pada sekelompok orang. Dengan kata lain, harta yang hanya berputar di antara orang-orang kaya[iv] perlu untuk dihindari. Jika tidak, akan ada sekelompok orang yang selalu kaya, sementara kelompok lainnya selalu miskin.

    Mungkin pernyataan selalu kaya (neverlasting rich) terdengar naive, namun justru ini kecenderungan insani karena berpadanan dengan hukum kewajaran dan logika satu arah. Seseorang yang dibesarkan oleh keluarga kaya mewarisi berbagai asset yang dibutuhkan untuk menjadi kaya.  Pada dirinya terakumulasi human capital (prinsip genetik), information capital (link dan network elit ekonomi-politik), dan organization capital (usaha bisnis dan struktur usaha yang sudah terbukti mampu mendulang sukses).  Dengan kata lain, untuk menjadi kaya, yang ia perlukan sekedar mentransform intangible assets yang telah ia miliki menjadi tangible outcomes.

    D. Kecenderungan Mengumpulkan Rezeki / Harta

    Menyimpan, menabung ataupun mempersiapkan kenyamanan masa mendatang, termasuk masa depan anak keturunan, merupakan suatu keniscayaan insani.  Kekhawatiran seorang bapak/ibu akan kesejahteraan mereka di masa mendatang, nasib keluarga mereka, bahkan setelah mereka berpulang ke rahmat Allah.

    Sedemikian kerasnya dorongan manusia untuk mencari harta ini sehingga banyak sekali ayat al-Qur’an yang memperingatkan tentang betapa menggodanya harta dunia bagi manusia ((حبّ الدنيا.  Sayangnya, meskipun sudah diperingatkan bahwa harta dunia ini tak lain  لهو و غرر , tetap saja manusia cenderung untuk mengumpulkan dan mencintainya.  Karena itu, sangat beralasan jika Allah kemudian menurunkan dua surat utuh yang mengingatkan manusia, yakni Surat al- Kautsar (QS. 108) dan Surat at- Takâtsur   (QS. 102):

     

    إنّ أعطيناك الكوثر فصلّ لربّك وانحر إنّ شانئك هو الأبتر (الكوثر)

     

    Kami telah berikan kepadamu  surga (rezeki yang amat banyak)[v], maka dari itu shalatlah engkau dan berkorbanlah.  Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu (setelah engkau -orang kaya- rajin shalat dan selalu berkorban) akan terputus dari rahmat Allah (QS. 108).

     

    الهاكم التكاثر حتّى زرتم المقابر كلاّ سوف تعلمون ثمّ كلا سوف تعلمون كلاّ لو تعلمون علم اليقين لترونّ الجحيم ثمّ لترونّه عين اليقين ثمّ لتسألون يومئذ عن النعيم

    Nikmatmu (kekayaanmu, kemuliaanmu, anak-anakmu) yang luar biasa telah membuat engkau lalai sampai engkau masuk ke liang kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui akibat dari perbuatanmu. Janganlah begitu, kelak engkau akan mengetahui. Janganlah begitu, kalau engkau benar-benar yakin niscaya engkau akan melihat neraka jahim. Sesungguhnya engkau akan melihatnya secara ‘ainul yakin.Kemudian, engkau akan ditanya –diminta pertanggungjawabanmu- tentang kenikmatan yang telah engkau terima (QS. at- Takatsur / 102).

     

    Kedua surat di atas dari sisi bunyi dan kandungan makna terlihat jelas berkorelasi.  Terlebih lagi, akar kata keduanya (al kautsar dan at takatsur) sama-sama menggunakan huruf كثر maka dapat dipahami bahwa ia menyampaikan pesan kepada kelompok the haves untuk selalu mengingat akan esensi harta yang bisa membawa kebaikan sekaligus kejelekan.  Harta dapat menjadi instrumen pendulang kenyamanan material dan juga immaterial, namun ia juga dapat menjadi sumber pertikaian, kebencian, eksploitasi dan intimidasi sosial dalam kehidupan dunia yang fana (متاعالغرر)ini. Agar sisi negatif dari kepemilikan harta / rezeki ini dapat diantisipasi oleh manusia, Allah mewajibkan distribusinya.

    Kewajiban Individual untuk Distribusi Rezeki / Harta

    Kecenderungan insani untuk mengumpulkan harta yang kemudian berkonsekuensi kepada penumpukan inilah yang kemudian memunculkan kewajiban distribusi (pembagian) agar harta ini bersirkulasi tidak hanya pada sekelompok orang.  Namun, kembali constraintnya adalah dorongan egoisme yang tidak hanya terjadi pada manusia kebanyakan, para agamawan sekalipun terkena penyakit keengganan untuk mendistribusikan harta yang sudah terlanjur menumpuk pada mereka.

     

    QS. At- Tawbah / 9: 39 menjelaskan hal ini:

     

    يأ يهاالذين أمنوا ءامنوا انّ كثيرا من الأحبار والرهبان ليأ كلون أموال الناس بالباطل و يصدّون عن سبيل الله والذين يكنذون الذهب والفضّة ولا ينفقونها فى سبيل الله فبشّرهم بعذاب أليم (التوبة 34)

    Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya banyak diantara para pendeta  yang memakan harta manusia lain dengan cara yang tidak benar serta menghalangi  mereka dari jalan Allah. Beritahukan kepada orang-orang yang menimbun emas dan perak serta tidak menafkahkannya di jalan Allah tentang azab yang amat pedih.

     

    Karena itu, Allah mengingatkan bahwa suatu benda atau keadaan yang kita senangi belum tentu baik buat kita; demikian pula sebaliknya:

     

    كتب عليكم القتال وهو كره لكم . و عسى أن تكرهوا شيئا و هو خير لكم وعسى أن تحبّوا شيئا و هو شرّ لكم والله يعلم وأنتم لا تعلمون (البقرة 216)

    Engkau diwajibkan untuk berperang padahal engkau tidak menyenanginya. Sesuatu yang engkau benci bisa jadi baik buatmu, dan sesuatu yang engkau senangi bisa jadi jelek buatmu.  Allah mengetahui (rahasia di balik itu), sedangkan engkau tidak mengetahuinya. (QS. Al- Baqarah / 2 : 216)

     

    Ayat di atas disampaikan oleh Allah Yang Maha Tahu karena ia mengerti bahwa kecenderungan dasar sebagian besar manusia adalah tidak sabar, berkeluh-kesah jika memperoleh sesuatu yang jelek, namun sombong dan melupakan hak orang lain jika ia memperoleh sesuatu yang baik. QS. Al- Ma’arij (70) ayat 19 – 21 menyatakan hal ini:

    إنّ الإنسان خلق هلوعا إذا مسّه الشرّ جزوعا وإذا مسّه الخير منوعا (المعلرج 19-21)

     

    Keinginan Allah agar manusia tidak terjebak dalam kecenderungan QS. 70:19-21 ini memunculkan Surat al- Ma’un (QS. 107: 1-7) yang sangat keras dalam mengingatkan manusia agar memperhatikan kewajiban distribusi :

     

    أرأيت الذي يكذّب بالدين فذالك الذي يدعّ اليتيم ولايحضّ على طعام المسكين فويل للمصلّين الذين هم عن صلاتهم ساهون الذين هم يراءون ويمنعون الماعون.

     

    Pernahkah engkau melihat orang yang mendustakan agama. Ia adalah orang yang mengasari anak yatim, tidak memberi makan orang miskin, tidak ingat akan (perintah) Allah ketika mengerjakan shalat, mereka tahu namun mereka menghalangi orang-orang yang memberi pertolongan.

     

     

    Surat ini sangat keras karena bicara tentang orang yang mendustakan agama.  Pendustaan agama umumnya disebabkan oleh keangkuhan (أبى واستكبر / kasus iblis, Fir’aun, dll), lupa diri (kasus kaum ‘Ad dan Tsamud), egoisme (kasus Tsa’laba, Qarun, dll).

     

    Selain Surat-surat dan ayat-ayat di atas, kita juga menemukan larangan penumpukan harta ini pada banyak ayat, seperti ayat-ayat tentang larangan penimbunan, seperti:

    هذا ما كنزتم لأنفسكم فذوقوا ما كنتم تكنزون (التوبة 39)

    Inilah yang engkau timbun untuk dirimu, maka rasakanlah akibat dari apa yang engkau timbun.

     

    Sebagai seorang khalifah yang dituntut untuk menghadirkan ke-salam-an berlapis (multi layers effect), maka berbagai implikasi dari perlakuan individu terhadap asset yang ia miliki perlu dipertimbangkan.  Individu perlu memikirkan follow up (tindak lanjut) dari pilihan tindakannya.  Jika ia mengumpulkan harta, menggunakan sebagian dan menyimpan kelebihannya, apa akibatnya, bagi dirinya dan bagi lingkungan ekonominya (sirkulasi)?  Apa pula akibatnya jika ia dengan penuh disiplin menunaikan kewajiban membayar zakat ketika simpanannya telah mencapai nisab dan haul (dengan tujuan sekedar membersihkan harta)? Bagaimana pengaruh dana zakat terhadap mustahiq? Bagaimana dengan kemungkinan sedekah, hibah, hadiah, wakaf, wasiat dan yang terakhir warisan?

    Bertitik tolak dari pemikiran di atas dan keterbatasan waktu dan keahlian individu, kewajiban distribusi individual mau tidak mau mulai bergeser kepada lembaga professional semacam BAZIS, Dompet Du’afa, GNOTA, Peduli Kasih, dan lain-lain.


    .

    Comments (1)

    maaf mas, boleh minta sumbernya darimana aja ndak? untuk tugas tp harus disertakan sumbernya hehe
    makasih sebelumnya…

    Post a comment

    All Articles | Contact Us | RSS Feed | Mobile Edition